Ada laporan bahwa layang-layang diterbangkan dari Gaza ke Israel, tetapi kedua pihak memiliki klaim yang sangat berbeda mengenai hal ini.
Menurut laporan media Israel, pada akhir pekan (sekitar tanggal 23-24 Agustus 2026), setidaknya ada 4 layang-layang yang terbang dari Jalur Gaza dan mendarat di wilayah pemukiman komunal (kibbutz) di Israel selatan.
Israel memperingatkan Hamas untuk berhenti menerbangkan layang-layang dari Gaza karena alasan layang-layang tersebut pernah digunakan sebagai “senjata pembakar” yang menyebabkan kerusakan parah, dan tindakan ini dianggap sebagai ancaman serta pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh.
Juru bicara Hamas, Hazim Qasim, menanggapi peringatan Israel dengan pernyataan tegas. Dia menyebut bahwa layang-layang yang dimaksud hanyalah “mainan anak-anak dari kamp pengungsi Gaza” dan tuduhan dari Israel adalah “dalih palsu” yang sengaja dibuat untuk membenarkan tindakan mereka.
Militer Israel menyatakan bahwa setelah diperiksa, tidak ditemukan benda mencurigakan pada layang-layang tersebut, dan layang-layang itu tidak menimbulkan bahaya langsung bagi publik.
Namun, insiden ini memicu kekhawatiran karena mengingatkan mereka pada peristiwa di masa lalu, tepatnya pada tahun 2018, di mana layang-layang dan balon dari Gaza digunakan secara terorganisir untuk membawa bahan bakar atau peledak, yang menyebabkan kebakaran besar di lahan pertanian dan hutan Israel selatan.
Layang-layang pembakar ini membakar lebih dari 4.300 hektar (sekitar 17,4 km²) lahan pertanian dan hutan umum di Israel selatan. Hanya dalam satu peristiwa pada April 2018, sekitar 100.000 meter persegi ladang gandum hangus terbakar.
Senjata ini sangat murah, tidak bisa dicegat oleh sistem pertahanan “Iron Dome” yang mahal, namun mampu menimbulkan kerusakan nyata dan tekanan psikologis bagi warga Israel.


