Gerhana bulan sebagian yang akan terjadi pada 27–28 Agustus 2026 dipastikan tidak dapat disaksikan secara langsung dari wilayah Indonesia.
Berdasarkan data dari NASA, Indonesia berada di luar area di mana gerhana ini dapat dilihat. Fenomena ini hanya bisa diamati dari wilayah Pasifik Timur, Amerika Utara dan Selatan, Eropa, serta sebagian Afrika.
Saat fase-fase utama gerhana berlangsung, posisi Bulan berada di bawah horizon (ufuk) untuk seluruh wilayah Indonesia. Gerhana ini mencapai puncaknya sekitar pukul 11:12 WIB pada tanggal 28 Agustus 2026, saat itu di Indonesia sedang siang hari sehingga Bulan tidak terlihat.
Perbedaan mendasar antara gerhana Bulan sebagian dengan kejadian Bulan pada umumnya (fase-fase Bulan biasa) terletak pada penyebab, penampakan fisik, dan posisi astronomisnya.
Posisi astronomi bulan pada umumnya adalah Bulan, Bumi, dan Matahari berada dalam posisi yang membentuk sudut tertentu (sekitar 90 derajat untuk kuartir, atau di antaranya). Bulan hanya menerima sinar Matahari dari satu sisi, sehingga kita melihat bagian Bulan yang tersinari dari sudut pandang Bumi berubah-ubah (dari sabit hingga purnama).
Sedangkan posisi astronomi gerhana bulan sebagian terjadi saat posisi Bumi persis berada di antara Matahari dan Bulan, dan ketiganya berada dalam satu garis lurus (atau hampir lurus). Namun, Bulan hanya melewati sebagian dari bayangan inti Bumi (umbra), bukan seluruhnya.
Penampakan fisik bulan pada umumnya akan bersinar dengan cahaya putih/keperakan yang stabil dari malam ke malam, hanya berubah bentuk (sabit, setengah, purnama) karena luas permukaan yang tersinari. Tidak ada perubahan warna yang drastis.
Untuk penampakan fisik gerhana bulan sebagian, bagian Bulan yang masuk ke bayangan umbra Bumi akan tampak “tergerogoti” berwarna gelap kehitaman atau merah tua/coppery. Perubahan warna ini terjadi karena cahaya Matahari dibiaskan oleh atmosfer Bumi (hanya spektrum merah yang mencapai Bulan). Sementara itu, bagian Bulan yang masih di luar bayangan tetap bersinar terang, sehingga terlihat seperti “bulan purnama yang digigit” oleh bayangan gelap.
Gerhana bulan sebagian sangat jarang terjadi. Meskipun secara teknis terjadi saat Bulan purnama, tidak setiap bulan purnama mengalami gerhana. Hal ini karena orbit Bulan miring 5 derajat terhadap orbit Bumi. Gerhana hanya terjadi saat purnama bertepatan dengan Bulan berada di titik simpul orbitnya (node), yang terjadi maksimal 2–3 kali dalam setahun di seluruh dunia.


